Mengenal Apa itu Ethereum (ETH)

VINANSIA.COM — Ethereum adalah proyek blockchain terbesar yang terus melakukan berbagai pengembangan. Pengembangan tersebut mungkin bisa dikatakan lebih besar daripada pesaingnya, Bitcoin.

Hal itu juga mengantarkan Ethereum sebagai proyek paling ambisius dalam sejarah blockchain sekarang ini. Jaringan Ethereum dikembangkan dengan menggunakan teknologi blockchain, yang tujuannya adalah untuk membangun decentralized application (dApp).

Tujuan lainnya ialah agar kita bisa bertransaksi dan bertukar informasi tanpa kendali dari otoritas sentral manapun. Tujuan Ethereum didirikan, singkatnya seperti di bawah ini:

  1. Membangun decentralized application (dApp).
  2. Agar kita bisa bertransaksi dan bertukar informasi tanpa kendali dari otoritas sentral manapun.

Untuk lebih jelasnya tentang apa itu Ethereum, berikut ini pemaparan lengkap dari vinansia.com.

Apa itu Ethereum (ETH)?

Ethereum punya aset kripto yang diberi nama ‘Ether’ dengan kode ETH. Ini adalah salah satu aset kripto terpopuler di dunia, yang dipakai di berbagai aktivitas di dunia kripto untuk pembayaran.

Ether sebagai bagian dari produk Ethereum, adalah token kripto yang masuk dalam tiga market cap terbesar, yang menjadi saingan berat bagi Bitcoin.

BACA JUGA:

Ether adalah aset kripto yang dikembangkan oleh Ethereum. Salah satu keunggulan ETH yakni user bisa melakukan staking. Artinya, para user atau Anda bisa menyetor sejumlah ETH ke dalam jaringan PoS Ethereum untuk menjadi kolateral.

ETH terus berkembang seiring perjalanannya. Betapa tidak, pada 2015, user hanya bisa melakukan satu hal dengan ETH, yaitu menggunakannya sebagai alat tukar yang dapat diberikan dan diterima pengguna platform Ethereum. Dan kini mereka bisa staking, seperti telah dijelaskan di atas.

Keunggulan Ethereum Dibandingkan Bitcoin

Ethereum diluncurkan pada tahun 2015. Keberadaannya melanjutkan kiprah Bitcoin tetapi dengan sejumlah perbedaan dan inovasi. Letak keunggulan Ethereum adalah pengembang dimungkinkan untuk secara mandiri meluncurkan aplikasi buatannya sendiri hingga beroperasi di atas jaringan Ethereum.

Dengan begitu, pengembang dapat menyetor data dan mengendalikan aplikasi buatannya sesuai keinginannya masing masing.

Bitcoin punya fokus yaitu menjadi aset kripto dan jaringan untuk moda pembayaran. Sedangkan Ethereum, yang dengan keunggulannya, bertujuan menjadi platform untuk aplikasi aplikasi multiguna.

Misalnya marketplace yang terdesentralisasi, media sosial, atau bahkan gim dan format hiburan lainnya. Dalam data terakhir pada official website Ethereum, saat ini ada sekitar 3.000 proyek yang dibentuk lewat jaringan Ethereum, dengan memakai 50.5 juta smart contract.

Ethereum Platform Favorit untuk Trading dan Trasaksi NFT

Ethereum adalah platform terpopuler untuk trading dan transaksi non-fungible token (NFT). Salah satu marketplace yang paling populer dan mendukung NFT berbasis Ethereum adalah Opensea.

Peran Smart Contract Ethereum

Aplikasi aplikasi (dApp) yang dibangun di atas jaringan Ethereum menjalankan mekanismenya masing masing. Namun ada persamaan di antara mereka, yaitu sama-sama memakai smart contract Ethereum.

Ketika kita melakukan transaksi, maka smart contract yang telah dikembangkan untuk dapat melakukan transaksi tersebut, akan menjalankan instruksi yang ada secara otomatis.

Mengapa itu bisa dilakukan? Salah satunya karena Ethereum punya Ethereum Virtual Machine (EVM). Keseluruhan node dalam jaringan menjalankan EVM sebagai bagian dari protokol verifikasi blok. Seluruh node melakukan kalkulasi yang sama untuk menjaga agar rekam jejaknya sinkron.

Tim Pengembang Ethereum

Awalnya, tepatnya pada tahun 2014, Ethereum dikembangkan oleh delapan orang. Mereka bertemu di Zug, Swiss, pada tahun 2014. Ethereum di masa awal dikembangkan di sebuah rumah sewaan, yang diberi nama ‘The Spaceship.

Dari rumah sewaan tersebutlah, Ethereum berkembang hingga menjadi blockchain terbesar kedua di dunia.

Dari 8 orang itu, salah satunya ialah Vitalik Buterin yang tetap menjadi pengembang Ethereum sampai sekarang. Saat Ethereum pertama kali dibuat, Buterin masih berusia 19 tahun. Tentu ini seharusnya menjadi pemicu semangat bagi generasi muda untuk terus semangat dalam berinovasi.

Saat itu Buterin adalah seorang penulis di media Bitcoin Magazine dan ia juga merupakan programmer. Waktu yang dihabiskan dirinya untuk mendalami dunia kripto adalah 3 tahun. Bayangkan, kita yang baru beberapa bulan sudah ingin untung dari kripto. Lah dia butuh 3 tahun, dan belum untung.

Dalam White Papernya, seperti dilansir Reku.id, Buterin menyinggung soal batasan yang ada pada Bitcoin. Hal inilah yang membuatnya menggagas sebuah platform yang dapat menjadi enabler berbagai jenis aplikasi aplikasi terdesentralisasi. []

Sumber:

https://ethereum.org

https://aws.amazon.com/blockchain/what-is-ethereum/

https://decrypt.co/36641/who-are-ethereums-co-founders-and-where-are-they-now

https://reku.id/information/about-eth

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *