Kamis 1 April, Saatnya Borong Saham? Simak Penjelasan ini

Pada hari ini, Rabu (31/3), sebagian besar saham-saham perbankan yang blue chip terkoreksi parah. Rontoknya saham-saham perbankan tersebut, tentu berimbas negatif pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ditutup pada Rabu (31/3), yaitu -1,42%, ke posisi 5.985,522.

Di antara saham-saham yang terkoreksi parah adalah Bank Pan Indonesia (PNBN), Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), Bank CIMB Niaga (BNGA), Bank Permata (BNLI), Bank Danamon Indonesia (BDMN), Bank Negara Indonesia (BBNI).

Saham bank milik Grup Panin, yakni PNBN, paling rontok di antara bank-bank lain.

Lantas, mengapa saham-saham bank besar itu bisa turun signifikan? Ada beberapa faktor yang melatarbelakanginya.

Faktor Pertama

Faktor pertama adalah rencana BPJS Ketenagakerjaan mengurangi investasi saham di bursa dan mengalihkannya ke obligasi surat utang negara dan investasi langsung. BPJS Ketenakerjaan merupakan institusi yang menanam saham dalam jumlah raksasa di bursa dengan angka triliunan.

Keputusan tersebut didasarkan pada rapat dengar pendapat bersama Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan, seperti dilansir dari CNBC Indonesia.

Faktor Kedua

Faktor kedua, terkoreksinya saham-saham di bursa, khususnya saham bank besar, juga akibat sentimen naiknya yield obligasi pemerintah AS atau US Treasury. Yield obligasi pemerintah AS acuan tenor 10 tahun naik 6 basis poin (bp) ke posisi tertinggi yaitu 1,77% pada Selasa (30/3/2021) pagi waktu AS.

Untuk diketahui, level tersebut adalah yang paling tinggi selama 14 bulan terakhir atau sejak Januari 2020. Hal ini sejalan dengan program vaksinasi dan upaya pemerintah AS dalam memulihkan perekonomian negaranya dan kenaikan inflasi.

Apa yang terjadi AS, seperti harapan pulihnya ekonomi AS dan naiknya inflasi, memicu sentimen dari para pelaku pasar asing di bursa Indonesia sehingga mereka menjual saham-sahamnya yang ada di bank-bank Indonesia dalam jumlah jumbo.

Kenaikan yield US Treasury tentu memiliki dampak yang sangat besar bagi pasar saham global, termasuk Indonesia. Apalagi Presiden AS Joe Biden juga berencana memberi stimulus infrastruktur sehingga diperkirakan ini akan menimbulkan sentimen yang besar bagi pasar.

Meski begitu, patut dicatat, saham-saham asing di pasar bursa Indonesia biasanya sudah masuk duluan dalam 3-4 bulan terakhir. Dan, asing melalui banyak trader, tentu tidak akan menjual semua sahamnya, dan pasti ada yang disisakan.

Faktor Ketiga

Faktor ketiga, yang menurut kami paling dominan, adalah ketika pernyataan Gubernur BI yang mengimbau perbankan untuk menurunkan bunga kredit agar ekonomi Indonesia pulih.

Namun, bagi dunia perbankan, kalau bunga kredit turun, maka otomatis keuntungan mereka menjadi turun. Karena itu, belum tentu juga perbankan merealisasikan imbauan BI dan bisa jadi antara perbankan dan BI diambil jalan tengah agar perbankan tetap mendapat marjin keuntungan meski sedikit.

Permasalahan bank sejauh ini, selama pandemi, yaitu deposito meningkat tetapi kreditnya seret. Kondisi ini jelas membuat para pelaku usaha enggan untuk melakukan ekspansi karena tidak ada demand.

Saatnya Borong Saham?

Lantas, dalam kondisi demikian, apakah saatnya memborong saham? Patut dicatat, bahwa sentimen yang telah dipaparkan di atas bukan bersifat jangka panjang. Kami perkirakan, pekan depan sudah kembali normal.

Diperkirakan, ini hanyalah sentimen sesaat. Asing bisa kembali lagi ke bursa Indonesia di waktu yang tepat. BPJS Ketenakerjaan belum dapat dipastikan akan melepas seluruh saham-sahamnya. Dan, soal penurunan bunga kredit, masih ada kemungkinan negosiasi antara keinginan BI dan perbankan.

Namun, momen ini tidak boleh disia-siakan. Kami rekomendasikan agar Anda memborong saham-saham perbankan yang anjlok, tetapi dengan mencicil dan jangan langsung memborong. Sebab, masih ada kemungkinan penurunan berlanjut dalam beberapa hari ke depan.

Anda hanya tinggal punya waktu satu hari lagi yaitu Kamis besok tanggal 1 April 2021. Karena di hari Jumat adalah tanggal merah kalender. Dan pada Senin pekan depan, IHSG, khususnya pada saham perbankan, diperkirakan sudah kembali normal.

“Karena kondisi hari ini hanyalah sentimen sesaat, tetapi jangan disia-siakan!” []

Leave a Comment