11 Cara Atur Keuangan yang Sudah Ketinggalan Zaman karena Faktor Pandemi

Inilah ulasan kami tentang cara atur keuangan tradisional dan sudah ketinggalan zaman sehingga tidak berlaku lagi diterapkan pada tahun 2021.

Tahun 2020 adalah tahun yang mencekam. Selama tahun itu pula kita belajar tentang arti penting mengelola keuangan secara bijak dan sekaligus juga membuat kita berpikir untuk mengubah tata cara mengatur keuangan konvensional.

Dengan demikian, ada beberapa aturan keuangan konvensional yang sebenarnya tidak patut kita lakukan lagi karena pandemi Covid-19. Pandemi virus corona mengubah dunia kita dan banyak aturan keuangan itu, selamanya.

baca juga: 7 Strategi Berinvestasi Supaya Untung Berlipat

Karena itu, kita perlu mengetahui cara konvensional mana yang seharusnya tidak lagi Anda lakukan dalam mengatur keuangan. Dan berikut ini adalah 11 cara keuangan konvensional yang sebetulnya tidak perlu lagi kita berlakukan karena pandemi Covid-19.

1. Menyisihkan Uang Selama 3 Bulan ke dalam Tabungan Darurat

Memiliki simpanan darurat sangat penting untuk mengatasi kesulitan keuangan seperti kehilangan pekerjaan atau untuk biaya pengobatan. Selama ini pun para ahli merekomendasikan untuk menghemat pengeluaran selama tiga bulan, untuk kemudian disisihkan ke dalam tabungan darurat.

Namun, selama pandemi terjadi, menghemat pengeluaran dan menyisihkan uang untuk membuat tabungan darurat tidak cukup hanya 3 bulan. Sebab banyak kalangan yang terpukul dari sisi finansial oleh situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Karena 3 bulan bukan lagi waktu yang cukup untuk membuat simpanan darurat, kini kami merekomendasikan Anda untuk menghemat pengeluaran dan menyisihkan uang selama 6 bulan atau lebih agar memiliki tabungan darurat yang bisa digunakan untuk situasi darurat, seperti pengobatan atau pegangan jika terjadi PHK.

Catat baik-baik, poinnya adalah, cara untuk membuat tabungan atau simpanan atau dana darurat yaitu dengan berhemat dan menyisihkan uang selama 6 bulan atau lebih, bisa juga 9 bulan atau bahkan 12 bulan. Sebab, waktu 3 bulan tidak lagi cukup untuk membuat dana darurat.

2. Membuat Simpanan Dana Pensiun

Mungkin selama ini sebagian dari kita banyak mendengar dari kalangan ahli keuangan mengenai perencanaan di masa pensiun dengan membuat simpanan dana pensiun. Namun, patut dicatat, cara seperti ini tidak lagi berlaku, terutama setelah terjadi pandemi corona.

Yang patut dicatat adalah, jangan sampai Anda mengorbankan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi hari ini demi sebuah perencanaan di masa tua nanti. Artinya, Anda harus memprioritaskan apa yang dibutuhkan hari ini dibandingkan memikirkan masa pensiun.

Karena itu, mungkin Anda bisa memilih untuk mengurangi kontribusi Anda terhadap perencanaan dana pensiun dan membuka arus kas untuk tagihan saat ini dan kewajiban keuangan mendesak lainnya.

3. Menyimpan Dana Pensiun dalam Obligasi

Para ahli keuangan sering kali merekomendasikan untuk menyimpan sebagian besar portofolio investasi Anda dalam bentuk obligasi jika mendekati masa pensiun.

Namun, tingkat suku bunga secara historis rendah dan orang-orang hidup lebih lama. Ini berarti portofolio Anda mungkin tidak berpenghasilan cukup untuk mendukung Anda di masa pensiun jika 100% terdiri dari obligasi.

Karena itu, Anda perlu memastikan Anda memiliki portofolio yang terdiversifikasi yang menyertakan aset yang akan tumbuh seiring waktu sehingga Anda dapat mempertahankan gaya hidup Anda.

4. Perumahan Real Estate adalah Investasi Terbaik

Memiliki rumah telah lama dianggap sebagai cara yang bagus untuk membangun kekayaan. Memang demikian. Namun keuntungan atas perumahan real estate sering kali tidak sesuai dengan pilihan investasi lain seperti saham dan obligasi,

terutama bila Anda mempertimbangkan biaya yang dibutuhkan untuk memiliki properti, seperti bunga hipotek, pajak, dan pemeliharaan.

Orang sering membuat kesalahan dengan menghabiskan terlalu banyak pendapatan mereka untuk sebuah rumah. Dan secara efektif menyingkirkan peluang investasi lainnya.

Apa yang tidak mereka sadari adalah bahwa dari tahun 1890 hingga 1990, apresiasi yang disesuaikan dengan inflasi di perumahan AS hampir nol. Ini mengherankan orang-orang tetapi yang patut diperhatikan adalah,

“Keputusan untuk membeli atau menyewa rumah pada dasarnya adalah keputusan pembiayaan.”

5. Bayar dengan Uang Tunai, Hindari Kartu Kredit

Banyak dari Anda yang mungkin menerima informasi bahwa membayar dengan uang tunai jauh lebih aman ketimbang kartu kredit, karena akan terhindar dari menumpuknya utang. Kini pandangan ini terbantahkan akibat pandemi corona.

Utang, bila digunakan dengan bijak, bisa menawarkan banyak manfaat terutama melalui kartu kredit. Misalnya perlindungan dari penipuan dan perlindungan pembelian atau harga.

Karena dengan semakin banyaknya orang yang berbelanja online, kartu kredit benar-benar merupakan cara terbaik untuk menghemat uang dan melindungi pembelian.

6. Habiskan Saldo Kartu Kredit

Mungkin selama ini Anda sering mendengar pandangan seperti ini, “Gunakan kartu kredit Anda untuk keadaan darurat dan gunakan sesuai saldo yang ada.” Ini nasihat yang bagus secara teori, tetapi tidak selalu baik.

Jika Anda berada dalam situasi keuangan yang sulit, yang dihadapi banyak orang sekarang ini, maka kelangsungan hidup menjadi prioritas utama dan mengikuti praktik terbaik keuangan dapat menunggu.

Catatannya adalah, bila Anda mengandalkan batas kredit Anda sebagai dana darurat dan hanya melakukan pembayaran minimum, berarti Anda telah menjaga atap di atas kepala Anda dan makanan di atas meja.

Jadi, biarkan saldo tersisa di kartu kredit Anda. Jangan dihabiskan.

“Terkadang, bertanggung jawab tidak berarti membuat pilihan keuangan yang optimal setiap saat, dan ini berarti melakukan yang terbaik yang Anda bisa selama waktu yang tidak stabil.”

Setelah Anda kembali ke pijakan keuangan yang kokoh, Anda bisa fokus untuk membayar saldo kartu kredit Anda.

7. Uang Tunai & Kartu Kredit Satu-Satunya Pilihan Pembayaran

Banyak orang membuat kesalahan dengan mengeluarkan anggaran secara berlebihan saat mengandalkan kartu kredit untuk membayar berbagai kebutuhan sehari-hari yang mereka butuhkan atau untuk sesuatu yang tidak terduga.

Dan itulah yang terjadi pada banyak orang selama 2020. Lalu bagaimana solusinya? Lihatlah, sekarang ini orang-orang mulai menggunakan opsi ‘beli sekarang, bayar nanti’, dibandingkan kartu kredit.

Jika digunakan secara bertanggung jawab, opsi pembayaran baru ini memungkinkan orang membagi biaya pembelian menjadi pembayaran yang dapat diprediksi yang bebas bunga dan sesuai dengan anggaran mingguan atau bulanan.

Namun, penting untuk melakukan penelitian dan hati-hati terhadap layanan BNPL yang memiliki biaya tersembunyi atau bunga yang ditangguhkan.

Dan seperti biasa, Anda tidak boleh menggunakan layanan ini untuk membeli barang-barang yang tidak Anda butuhkan atau membelanjakan lebih dari yang secara realistis Anda mampu beli.

8. Cicilan Rumah 30% dari Pendapatan

Pandangan ini juga sering kita dengar, yaitu cicilan rumah tidak boleh lebih dari 30% dari total pendapatan. Sebetulnya aturan keuangan ini sudah ketinggalan zaman sejak tahun 1969 peraturan perumahan publik.

Pandangan tersebut gagal mempertimbangkan skenario yang dimiliki setiap individu atau tanggung jawab keuangan mereka yang lain. Lalu bagaimana solusinya?

Alih-alih mematuhi aturan ini, fokuslah untuk membuat peta anggaran yang lengkap yang didasarkan pada tanggung jawab dan tujuan keuangan Anda.

Tentukan berapa biaya perumahan yang mampu Anda bayar, sambil mencapai tujuan keuangan Anda yang lain seperti penghapusan utang, tabungan dan investasi untuk masa depan Anda.

Jika Anda mampu mencapai semua itu, mungkin tidak masalah untuk membelanjakan lebih dari 30% pendapatan Anda untuk membayar cicilan rumah. Di sisi lain, harus dipikirkan juga, 30% mungkin terlalu tinggi jika punya kewajiban keuangan yang lain.

9. Punya Jumlah Uang Tertentu di Usia Tertentu

Kami tidak pernah merasa aturan uang ini benar sepenuhnya, sebab tahun ini telah menyoroti bahwa setiap orang berada di jalur keuangan yang berbeda dan berasal dari awal keuangan yang berbeda.

Daripada berfokus pada usia Anda dan kekayaan bersih yang harus menyertainya, fokuslah pada peningkatan kekayaan bersih Anda dari tahun ke tahun. Anda dapat melakukannya dengan mengakumulasi aset seperti tabungan dan dana pensiun, serta melunasi utang Anda.

10. Periksa Laporan Kredit Anda Setahun Sekali

Dulu cukup untuk memeriksa laporan kredit Anda setahun sekali, atau mungkin triwulanan jika Anda khawatir tentang kesalahan atau penipuan. Namun, belakangan ini, penting untuk memeriksa lebih sering.

Dengan masalah yang disebabkan oleh pandemi, lebih banyak orang yang membuat rencana pembayaran khusus atau penangguhan rekening mereka, seperti pinjaman.

Sangat penting untuk mengetahui apakah laporan kredit Anda mencerminkan pelaporan yang akurat. Karena itu, disarankan untuk memeriksa laporan Anda sebulan sekali. Lebih sering pun tak masalah.

11. Jangan Berinvestasi Sampai Anda Bebas Utang

Aturan tradisionalnya memang demikian. Lunasi semua utang, baru kemudian berinvestasi. Tetapi mengikuti saran itu dapat merusak keuangan Anda dalam jangka panjang.

Justru saat ini sebetulnya semakin banyak orang yang dibebani utang untuk jangka waktu yang lebih lama. Jika seseorang menunggu utangnya lunas untuk mulai berinvestasi, maka sebenarnya mereka tidak akan pernah bisa menikmati tahun pertumbuhan bunga.

Maka, jika Anda mampu untuk mempertahankan pembayaran utang Anda dan menyisihkan sedikit uang untuk investasi, lakukanlah. Masa depan yang cemerlang menanti Anda!

[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *