Bank Jago Tbk: Prospek Saham dan 3 Bocoran Terpenting

Bank Jago
Bank Jago

Kalau ada yang tanya, saham apakah yang mengalami kenaikan paling tinggi pada masa pandemi Covid-19 ini? Jawaban salah satunya tentu saja adalah saham PT Bank Jago Tbk (ARTO).

Selama sekitar 3 tahun sejak penawaran ke publik (IPO) pada 2016, saham Bank Jago tidur di level Rp 132 per saham dan paling tinggi hanya di Rp 200 per saham. Dan sejak pertengahan tahun 2019, saham tersebut mendadak mengalami kenaikan hingga di level Rp 10.000 per saham.

Kapitalisasi pasar saham Bank Jago kini telah mencapai Rp 108 triliun yang hampir setara dengan kapitalisasi Bank BNI yang masuk kategori Bank papan atas.

Bagaimana saham Bank Jago bisa naik berkali-kali lipat? Apakah kenaikan itu sesuai dengan kinerjanya? Kali ini kita bahas dari tiga aspek penting berikut ini, simak baik-baik.

1. Sejarah Bank Jago

Sejarah Bank Jago dimulai pada tahun 1992 di Bandung. Bank ini dulunya bernama Bank Artos. Bank ini dimiliki oleh keluarga Arto Hardy. Selain mendirikan Bank Artos, keluarga Arto Hardy juga tercatat punya perusahaan lain yaitu PT Poliyfilatex, sebuah perusahaan yang memegang lisensi dan distributor merk FILA di Indonesia.

Meski sudah cukup lama berdiri, namun nama Bank Artos kurang terdengar di masyarakat. Pertumbuhanya pun boleh dibilang biasa biasa saja. Sejak berdiri, bank ini masih berkutat di level bank buku 1 (Bank dengan modal di bawah Rp 1 triliun).

Bank Artos mulai ramai menjadi pembicaraan publik saat Metamorfosis Ekosistem Indonesia (MEI) dan Wealth Track Technology Limited (WTT) mengakuisi saham Bank Artos dari keluarga Arto Hardy pada tahun 2019 lalu.  MEI dan WTT masing-masing menggenggam 37,65 persen dan 13,35 persen saham di Bank Artos.

Di belakang kedua perusahaan yang mengakuisisi Bank Artos tersebut bukanlah orang sembarangan. MEI diwakili oleh Jerry Ng, bankir senior yang sudah malang melintang di dunia perbankan dan di WTT ada sosok Patrick Walujo, pendiri Northstar Group, sebuah perusahaan private equity yang mengelola dana lebih dari Rp 30 triliun.

Duet antara Jerry Ng dan Patrick Walujo bukan kali ini saja terjadi. Mereka berdua merupakan sosok yang membesarkan bank BTPN.

Waktu pertama Patrick dan Jerry masuk di bank BTPN, asetnya cuma Rp 10,6 triliun dan berkembang menjadi bank yang cukup besar dengan aset Rp 101,9 triliun yang kemudian dijual ke Sumitomo Mitsui Banking Corporation dengan keuntungan yang berkali-kali lipat.

Dan sepertinya, duet mereka berdua di Bank Artos ini ingin mengulang kisah sukses tersebut.

Masuknya Patrick dan Jerry di Bank Artos ini sekaligus juga mengubah model bisnis bank tersebut. Bank Artos yang dulu model bisnisnya masih konvensional akan diubah menjadi bank digital. Dan bank Artos pun namanya berubah menjadi bank Jago dengan kantor pusatnya juga pindah ke Jakarta.

Nama Bank Jago juga makin menjadi buah bibir di pasar saham saat Gojek secara resmi mengakuisisi 22 persen saham Bank Jago pada akhir tahun 2020. Harga sahamnya pun mengalami kenaikan yang cukup fantastis setelah kabar gojek mengakuisisi saham tersebut.

Masuknya Gojek ke bank Jago sebenarnya bukan hal yang mengagetkan, karena Patrik Walujo sendiri pernah punya hubungan dengan Gojek. Patrik merupakan salah satu sosok yang memberikan pendanaan pertama ke Gojek.

Untuk membesarkan Bank Jago, bank ini pun terus memperkuat permodalan. Setelah  menggelar right issue dengan masuknya pemegang saham baru seperti Gojek, baru baru ini Bank Jago dikabarkan akan kembali melakukan right issue kedua dengan target perolehan dana Rp 7,5 triliun.

Salah satu investor yang akan masuk tersebut adalah GIC Private Limited, Soveirgn Wealth Fund asal Singapura yang siap menyerap sebagian right issue tersebut.

2. Bisnis Model

Sebagai Bank digital tentu saja pendekatan Bank Jago ke depan akan jauh berbeda dengan bank konvensional pada umumnya. Ciri khas bank  digital ini tidak memerlukan kantor cabang dan cabang pembantu.

Misalnya untuk membuka rekening dan menabung kalian tidak perlu datang mengambil nomor antrian di kantor bank, kalian bisa melakukan aktivitas tersebut hanya dengan smartphone kalian.

Banyak kalangan yang berpendapat kalau model bisnis ini akan menghemat biaya operasional yang cukup besar yang digunakan misalnya untuk sewa gedung dan gaji karyawan di masing-masing kantor cabang dan cabang pembantu. Tapi perlu diingat juga, bank digital ini juga perlu biaya yang tidak sedikit untuk belanja teknologi.

Dan nilai untuk belanja teknologi ini bisa saja jauh lebih besar di banding biaya operasional bank konvensional untuk membuka cabang dan menggaji karyawan. Karena bisnis bank digital sangat tergantung pada penggunaan teknologi tinggi misalnya artifical intelgence, blokchain, cloud, dan big data yang perlu investasi besar.

Di luar negeri, model bisnis bank digital yang cukup sukses adalah Webank, perusahaan bank digital di China yang dikendalikan oleh Tencent group, perusahaan raksasa asal China yang membawahi wechat, tiktok dll.

Di Indonesia, Tencent group juga merupakan salah satu investor yang menyuntikan dana cukup besar ke Gojek bersama dengan google, dan JD.Com.

Webank, sebagai bank digital yang baru berdiri pada tahun 2014 lalu kini valuasinya diperkirakan mencapai USD 30 miliar meski tidak punya kantor cabang fisik.

Dalam sebuah wawancara di media online thefinancialbrand.com, Henry Ma, Chief Information Officer Webank mengatakan kalau Webank kini sudah memiliki lebih 200 juta klien individu dan 1,3 juta UMKM dan dalam waktu 1 tahun sudah bisa mencetak keuntungan.

Salah satu kunci sukses Webank bisa mendapatkan klien yang sangat besar hanya dalam waktu lima tahun, karena  Webank punya data dari WeChat pay yang merupakan salah satu dompet digital terbesar di china.

Jika melihat hal tersebut, bukan tidak mungkin kesuksesan Webank akan diadopsi oleh bank Jago di Indonesia. Mengingat Bank Jago sudah punya ekosistem digital yang kini dipegang oleh Gojek.

Bisa saja target pasar dari Bank Jago adalah para pengguna Gopay, mulai dari driver online, pembeli, atau UKM-UKM yang menjual barang dagangannya melalu gofood. Dan tentu saja itu adalah market yang sangat besar yang tidak dimiliki oleh bank bank digital lain di Indonesia.

3. Valuasi

Lalu, dengan harga saham Bank Jago yang sudah naik berkali-kali lipat ini, apakah masih layak untuk dikoleksi. Penulis sendiri menyarankan untuk tidak ikut berspekulasi mengakumulasi saham tersebut.

Kecuali kalau kalian memang berniat jadi penjudi dan siap mental untuk menanggung risiko saham tersebut akan mengalami penurunan pasca right issue.

Karena bagi penulis yang masuk golongan fundamentalis, harga saham Bank Jago Rp 10.000 per saham itu masuk kategori sangat sangat mahal. Bank yang belum membuktikan kinerjanya dihargai 90 kali nilai bukunya.

Padahal bank bank yang sudah membuktikan kinerjanya misalnya BCA itu harganya 4 kali nilai buku, Mandiri 1,5 kali dan BRI 2,8 kali nilai buku.

Mungkin kalian berpendapat untuk kasus Bank Jago, tidak bisa dinilai dengan hanya melihat nilai buku perusahaan karena untuk kasus bank Jago yang dinilai adalah potensi ke depannya sebagaimana menilai perusahaan start up.

Oke, kalau begitu apakah Bank Jago pantas dihargai Rp 108 triliun yang artinya seperempat dari valuasi Webank yang sudah membuktikan memiliki lebih dari 200 juta nasabah individu dan 1,3 nasabah UMKM.

Bagi penulis, Bank Jago perlu memberikan bukti terlebih dahulu. Misalnya berapa banyak nasabah yang bisa bank Jago jaring dari pengguna gopay. Dan bagaimana kinerja keuanganya ke depan. Apakah bisa langsung profit atau perlu bakar uang dulu layaknya perusahaan start up ketika mulai merintis.

Yang jelas, penulis masih yakin dengan masa depan Bank Jago untuk menjadi bank digital terbesar di Indonesia. Tapi jika ingin mengoleksi sahamnya lebih baik kalian menunggu bank ini memberi bukti terlebih dahulu. Jangan berspekulasi!

(Raihanun)

2 thoughts on “Bank Jago Tbk: Prospek Saham dan 3 Bocoran Terpenting”

Leave a Comment