Bank Jago dan Tekad ‘Bermain’ di Syariah

Tampaknya Bank Jago tak main-main bermain di sektor syariah. Bank yang berdiri di Bandung pada 1992 ini bertekad untuk mengambil peran di sektor syariah dengan menghadirkan layanan syariah.

Hal ini diketahui berdasarkan anggaran dasar Bank Jago di mana maksud dan tujuan Perseroan adalah berusaha dalam bidang Bank Umum. Namun Perseroan hingga Januari 2021, adalah Bank Umum Non-Devisa dan Unit Usaha Syariah (UUS).

BACA JUGA: Profil Lengkap Bank Jago dan Analisis Prospek Perusahaan

Pada tanggal 30 September 2020, Perseroan memiliki aset likuid berupa kas, penempatan pada Bank Indonesia dan Surat Berharga sebesar Rp 581,8 miliar.

Selain itu, dalam melakukan ekspansi kredit dan pembiayaan syariah pada periode yang akan datang, Perseroan akan mengkonversikan aset likuid tersebut menjadi kredit dan pembiayaan syariah untuk mendapatkan imbal hasil yang lebih baik.

Bank Jago memasuki industri perbankan Indonesia sejak tanggal 14 Desember 1992. Pada bulan Desember 2019, Bank diakuisisi oleh Pemegang Saham Pengendali baru yang ingin menjadikan Perseroan sebagai platform untuk bank berbasis Teknologi (Tech-based Bank),

yang fokus pada segmen menengah dan bawah (middle & mass market) dengan melayani nasabah UKM (SME) dan Ritel (Consumer) secara konvensional maupun syariah dengan bekerja sama dengan pelaku ekosistem digital (digital ecosystem players).

Untuk membangun bank digital dan mencapai target pertumbuhan dan kinerja keuangan pada tahun 2021 dengan mempertimbangkan pandemi Covid-19 berpotensi masih berlanjut hingga tahun 2021 sementara proses vaksinasi dilakukan, manajemen Bank Jago mencanangkan salah satu langkah yang strategis.

“Yaitu, membangun platform digital banking untuk UMKM dan Syariah.”

Bank Jago telah mendapat persetujuan OJK untuk meluncurkan layanan aplikasi Life Finance Solution (LFS) Jago yang ditujukan kepada nasabah Consumer pada bulan Oktober 2020 dan siap untuk diluncurkan kepada publik pada bulan Desember 2020.

Selaras dengan visi Perseroan, sebagai Tech-based Bank yang siap melayani segmen-segmen pasar Usaha Kecil dan Menengah (UKM atau SME), Ritel (Consumer) termasuk Mass Market di Indonesia baik secara konvensional maupun berbasis Syariah,

maka pada tahun 2021 Perseroan akan membangun platform digital banking untuk UMKM dan Syariah dengan meluncurkan aplikasi Business Finance Solution (BFS) Jago dan aplikasi LFS Syariah.

Sejarah Bank Jago

Sejarah Bank Jago dimulai pada tahun 1992 di Bandung. Bank ini dulunya bernama Bank Artos. Bank ini dimiliki oleh keluarga Arto Hardy. Selain mendirikan Bank Artos, keluarga Arto Hardy juga tercatat punya perusahaan lain yaitu PT Poliyfilatex, sebuah perusahaan yang memegang lisensi dan distributor merk FILA di Indonesia.

Meski sudah cukup lama berdiri, namun nama Bank Artos kurang terdengar di masyarakat. Pertumbuhanya pun boleh dibilang biasa biasa saja. Sejak berdiri, bank ini masih berkutat di level bank buku 1 (Bank dengan modal di bawah Rp 1 triliun).

Bank Artos mulai ramai menjadi pembicaraan publik saat Metamorfosis Ekosistem Indonesia (MEI) dan Wealth Track Technology Limited (WTT) mengakuisi saham Bank Artos dari keluarga Arto Hardy pada tahun 2019 lalu. MEI dan WTT masing-masing menggenggam 37,65 persen dan 13,35 persen saham di Bank Artos.

Di belakang kedua perusahaan yang mengakuisisi Bank Artos tersebut bukanlah orang sembarangan. MEI diwakili oleh Jerry Ng, bankir senior yang sudah malang melintang di dunia perbankan dan di WTT ada sosok Patrick Walujo, pendiri Northstar Group, sebuah perusahaan private equity yang mengelola dana lebih dari Rp 30 triliun.

Duet antara Jerry Ng dan Patrick Walujo bukan kali ini saja terjadi. Mereka berdua merupakan sosok yang membesarkan bank BTPN.

Waktu pertama Patrick dan Jerry masuk di bank BTPN, asetnya cuma Rp 10,6 triliun dan berkembang menjadi bank yang cukup besar dengan aset Rp 101,9 triliun yang kemudian dijual ke Sumitomo Mitsui Banking Corporation dengan keuntungan yang berkali-kali lipat.

Dan sepertinya, duet mereka berdua di Bank Artos ini ingin mengulang kisah sukses tersebut.

Masuknya Patrick dan Jerry di Bank Artos ini sekaligus juga mengubah model bisnis bank tersebut. Bank Artos yang dulu model bisnisnya masih konvensional akan diubah menjadi bank digital. Dan bank Artos pun namanya berubah menjadi bank Jago dengan kantor pusatnya juga pindah ke Jakarta.

Nama Bank Jago juga makin menjadi buah bibir di pasar saham saat Gojek secara resmi mengakuisisi 22 persen saham Bank Jago pada akhir tahun 2020. Harga sahamnya pun mengalami kenaikan yang cukup fantastis setelah kabar gojek mengakuisisi saham tersebut.

Masuknya Gojek ke bank Jago sebenarnya bukan hal yang mengagetkan, karena Patrik Walujo sendiri pernah punya hubungan dengan Gojek. Patrik merupakan salah satu sosok yang memberikan pendanaan pertama ke Gojek.

Untuk membesarkan Bank Jago, bank ini pun terus memperkuat permodalan. Setelah menggelar right issue dengan masuknya pemegang saham baru seperti Gojek, baru baru ini Bank Jago dikabarkan akan kembali melakukan right issue kedua dengan target perolehan dana Rp 7,5 triliun.

Salah satu investor yang akan masuk tersebut adalah GIC Private Limited, Soveirgn Wealth Fund asal Singapura yang siap menyerap sebagian right issue tersebut.

Bisnis Model

Sebagai Bank digital tentu saja pendekatan Bank Jago ke depan akan jauh berbeda dengan bank konvensional pada umumnya. Ciri khas bank digital ini tidak memerlukan kantor cabang dan cabang pembantu.

Misalnya untuk membuka rekening dan menabung kalian tidak perlu datang mengambil nomor antrian di kantor bank, kalian bisa melakukan aktivitas tersebut hanya dengan smartphone kalian.

Banyak kalangan yang berpendapat kalau model bisnis ini akan menghemat biaya operasional yang cukup besar yang digunakan misalnya untuk sewa gedung dan gaji karyawan di masing-masing kantor cabang dan cabang pembantu. Tapi perlu diingat juga, bank digital ini juga perlu biaya yang tidak sedikit untuk belanja teknologi.

Dan nilai untuk belanja teknologi ini bisa saja jauh lebih besar di banding biaya operasional bank konvensional untuk membuka cabang dan menggaji karyawan. Karena bisnis bank digital sangat tergantung pada penggunaan teknologi tinggi misalnya artifical intelgence, blokchain, cloud, dan big data yang perlu investasi besar.

Di luar negeri, model bisnis bank digital yang cukup sukses adalah Webank, perusahaan bank digital di China yang dikendalikan oleh Tencent group, perusahaan raksasa asal China yang membawahi wechat, tiktok dll.

Di Indonesia, Tencent group juga merupakan salah satu investor yang menyuntikan dana cukup besar ke Gojek bersama dengan google, dan JD.Com.

Webank, sebagai bank digital yang baru berdiri pada tahun 2014 lalu kini valuasinya diperkirakan mencapai USD 30 miliar meski tidak punya kantor cabang fisik.

Dalam sebuah wawancara di media online thefinancialbrand.com, Henry Ma, Chief Information Officer Webank mengatakan kalau Webank kini sudah memiliki lebih 200 juta klien individu dan 1,3 juta UMKM dan dalam waktu 1 tahun sudah bisa mencetak keuntungan.

Salah satu kunci sukses Webank bisa mendapatkan klien yang sangat besar hanya dalam waktu lima tahun, karena Webank punya data dari WeChat pay yang merupakan salah satu dompet digital terbesar di china.

Jika melihat hal tersebut, bukan tidak mungkin kesuksesan Webank akan diadopsi oleh bank Jago di Indonesia. Mengingat Bank Jago sudah punya ekosistem digital yang kini dipegang oleh Gojek.

Bisa saja target pasar dari Bank Jago adalah para pengguna Gopay, mulai dari driver online, pembeli, atau UKM-UKM yang menjual barang dagangannya melalu gofood. Dan tentu saja itu adalah market yang sangat besar yang tidak dimiliki oleh bank bank digital lain di Indonesia. []

 

Leave a Comment