Mengenal 3 Grup Raksasa Ekonomi Digital Indonesia

Indonesia saat ini menjadi negara dengan pasar ekonomi digital paling berpengaruh di ASEAN. Hal ini disampaikan oleh Co-Founder & Executive Chairman Triputra Agro Persada Group, Arif P Rachmat.

Lantas apa indikatornya? Ada tiga indikator yang menjadi landasan dan berkaitan erat dengan keberadaan 3 grup raksasa ekonomi digital di Indonesia. Tiga grup tersebut memiliki valuasi sebesar US$ 240 miliar atau ekuivalen seperempat Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Grup raksasa ekonomi digital itu juga bisa disebut dengan 3 ekosistem yang menjadi pijakan berkembangnya bisnis-bisnis melalui e-commerce atau marketplace yang telah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Pesatnya perkembangan e-commerce tentu tidak bisa dilepaskan dari kehadiran 3 ekosistem atau 3 grup raksasa ekonomi digital itu. Lantas siapa saja 3 grup raksasa yang dimaksud? Berikut ini paparannya:

1. Shopee

Pertama adalah Shopee. Tentu kalian semua sudah tidak asing lagi dengan marketplace satu. Promosinya dilakukan dengan gila-gilaan, sampai menembus hampir seluruh media televisi di Indonesia.

Kita mungkin sangat sering menyaksikan acara-acara promosi Shopee yang disiarkan di televisi dengan bintang tamu berkelas mewah, termasuk artis Korea. Promosi mereka disebut gila-gilaan karena produk-produknya menawarkan harga yang luar biasa fantastis murahnya.

Bahkan, ketika promosi itu dilakukan di siaran televisi, dan orang-orang banyak yang memanfaatkannya termasuk saya sendiri, si penjual atau pemilik toko di Shopee kewalahan karena transaksinya sudah overload. Dampaknya, pengiriman menjadi lebih lama dari biasanya.

Shopee adalah platform e-commerce terbesar Shopee yang memiliki kapitalisasi pasar sebesar US$ 140 miliar dan sudah listed di bursa Amerika Serikat. Shopee bahkan menjadi perusahaan e-commerce terbesar di ASEAN. Catat baik-baik, Shopee di Indonesia menguasai 40 persen volume pasar.

2. Grab dan Emtek

Platform digital Grab juga berniat listing di AS dengan valuasi US$ 40 miliar. Grab yang berada dalam satu grup platform pembayaran OVO akan berpartisipasi dalam rights issue PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (Emtek) yang memiliki dompet digital Dana.

Emtek sendiri memiliki valuasi US$ 10 miliar. Jadi, kalau Emtek dengan valuasi US$ 10 miliar digabung Grab US$ 40 miliar, bernilai total US$ 50 miliar.

3. Sinergi Grup Triputra, Tokopedia, Gojek dan Bank Jago

Triputra menekuni bisnis e-commerce berawal dari pendirian PT Anteraja. Menurut dia, ekonomi digital tidak terlepas dari tiga hal, yakni platform e-commerce, e-payment dan logistik.

Grup Triputra bermitra dengan Bank Jago yang sudah mendeklarasikan sebagai bank digital. Triputra sebagai pemegang saham, meskipun kecil. Triputra juga menggandeng platform e-commerce Tokopedia.

Seiring dengan itu, Gojek bermerger dengan Tokopedia menjadi GoTo. GoTo kini memiliki valuasi US$ 18 miliar dan diyakini akan tumbuh ke level US$ 40 miliar. Jika GoTo bersinergi dengan Bank Jago yang memiliki valuasi US$ 10 miliar, nilainya keduanya bakal menembus US$ 50 miliar.

Para ahli menyatkan, nilai atau omset ekonomi digital di Indonesia untuk sekarang ini masih sekitar US$ 40 miliar. Dalam lima tahun ke depan, nilainya akan melonjak jadi US$ 130 miliar, sehingga menjadikan Indonesia sebagai pasar ekonomi digital terbesar di Asean.

Tiga grup entitas tersebut memiliki valuasi sekitar US$ 240 miliar. Bayangkan ketika tiga ekosistem digabung, maka totalnya bernilai US$ 240 miliar atau hampir seperempat PDB Indonesia.

Karena itu, Indonesia menjadi kunci dalam pasar ekonomi digital ASEAN dan ASEAN Plus-plus. Di luar AS dan Tiongkok, ASEAN Plus-plus adalah the next most exicting largest growing destination for industry, terutama ekonomi digital.

Untuk itulah, Indonesia harus mampu memonetisasi ekonomi digital seperti AS dan Tiongkok dan kuncinya, daya beli harus kuat. PDB per kapita harus ditingkatkan. Jika saat ini baru sekitar US$ 4.000, minimal harus dinaikkan menjadi dua kali lipat.

PDB per kapital Tiongkok sudah US$ 12.000 dan AS sebesar US$ 63ribu. Tetapi kita tidak perlu bandingkan dengan AS, cukup benchmark- nya Tiongkok. Kalau PDB per kapita kita bisa dobel, profit e-commerce akan sangat besar.

Untuk mengakselerasi PDB per kapita salah satunya adalah harus banyak mencetak enterpreneur, termasuk dalam bisnis ekonomi digital. Apa yang dilakukan Aldi Haryopratomo dengan membangun Mapan kemudian masuk ke GoPay dan Gibran Huzaifah di eFishery itu luar biasa. Mereka benar-benar leading the way.

E-commerce pun, jangan hanya bersifat konsumtif dan e-commerce ini harus mampu meningkatkan produktivitas terutama dari sisi supply chainnya. Harus membantu UMKM, petani, nelayan, dan sebagainya.

Melihat kondisi tersebut, ekonomi Indonesia segera kembali pulih jika mengacu pada prospek perekonomian nasional ke depan. Salah satu contohnya adalah kenaikan penjualan Wings Group dan sudah banyak dealer-dealer Honda yang 90% penjualannya telah mencapai pra-Covid.

Jika dibandingkan dengan negara demokrasi berpenduduk lain, yakni Amerika Serikat, Brasil, dan India, Indonesia, jauh sangat baik dari aspek infeksi Covid dan aspek ekonominya. Semua dalam keadaan yang sangat baik.

Bisnis Triputra sendiri tahun ini sudah mulai membaik. Beberapa lini bisnis telah melewati perolehan tahun 2019. Seperti misalnya AnterAja. Salah satu anak usaha, Triputra Agro Persada tahun ini IPO. []

Sumber: Warta Ekonomi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *